oleh

Lima Sektor Properti Bali Diprediksi Melesat hingga 2030, Investor Mulai Berebut Posisi

INBISNISNEWS.COM, BALI – Setelah mengalami lonjakan pascapandemi, pasar properti Bali memasuki fase konsolidasi sehingga koreksi harga di sejumlah segmen dipandang sebagai peluang memperoleh aset berkualitas dengan valuasi lebih rasional.

Laporan pasar menunjukkan permintaan tidak lagi didominasi pembelian spekulatif. Investor kini lebih memprioritaskan legalitas lahan, kualitas pengembang, arus kas sewa, serta prospek pertumbuhan kawasan dalam jangka panjang.

Perubahan tersebut menunjukkan pasar properti Bali memasuki fase yang lebih matang. Keputusan investasi kini semakin berbasis data, kelayakan bisnis, serta kemampuan aset menghasilkan pendapatan berkelanjutan.

Senior Director Capital Markets JLL, Herully Suherman, menegaskan,”Pasar properti Indonesia tetap menarik bagi investor, didukung oleh arus investasi domestik dan asing yang positif, pertumbuhan GDP yang konsisten di atas 5 persen, serta basis demografi yang kuat, meskipun transparansi pasar masih menjadi tantangan.”

Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa daya tarik Bali tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari penguatan fundamental pasar properti nasional.

Lima Segmen yang Diperkirakan Tumbuh Hingga 2030

Perubahan perilaku wisatawan internasional membuka peluang investasi baru yang tidak lagi terfokus pada vila mewah. Investor mulai melirik aset dengan arus kas stabil dan didukung tren pariwisata berkualitas.

Berdasarkan berbagai laporan pasar dari Colliers Indonesia, perkembangan KEK Sanur, serta tren investasi pariwisata Bali, terdapat lima segmen properti yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan paling kuat hingga akhir dekade ini, yaitu:

  • Villa Rental Premium di Canggu, Uluwatu, dan Ubud.
  • Wellness Resort yang memanfaatkan tren kesehatan global.
  • Medical Tourism Property di sekitar KEK Sanur dan Bali International Hospital.
  • Commercial Lifestyle seperti restoran, retail premium, dan beach club.
  • Serviced Apartment yang menyasar digital nomad, ekspatriat, dan profesional internasional.

Diversifikasi tersebut menunjukkan bahwa investasi di Bali tidak lagi bergantung pada satu jenis aset, melainkan berkembang mengikuti perubahan kebutuhan pasar global.

Pemerintah Mempercepat Infrastruktur dan KEK Bali

Prospek investasi Bali turut diperkuat oleh percepatan kebijakan pemerintah dalam mengembangkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali dan KEK Sanur sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Saat meninjau KEK Kura Kura Bali pada 1 Mei 2026, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan,”Jadi apa yang (KEK) Kura Kura Bali bisa tawarkan untuk lokasi IFC? Nanti agar dibicarakan langsung dengan Danantara.”

Pernyataan tersebut menegaskan keseriusan pemerintah mempersiapkan Bali sebagai lokasi International Financial Center (IFC) yang diharapkan menarik investasi global pada sektor keuangan, teknologi, dan jasa bernilai tambah tinggi.

Selain itu, KEK Sanur berkembang menjadi pusat health tourism melalui operasional Bali International Hospital dan pembangunan berbagai fasilitas kesehatan internasional. Transformasi tersebut membuka peluang investasi baru pada sektor properti, layanan kesehatan, serta ekonomi kreatif.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menegaskan saat kunjungan ke KEK Kura Kura Bali, 1 Mei 2026, bahwa pengembangan kawasan ekonomi khusus menjadi bagian dari strategi pemerintah menarik investasi berkualitas yang mampu menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, dan memperkuat daya saing Indonesia sebagai tujuan investasi global.

“Pengembangan KEK harus mampu menjadi pengungkit investasi berkualitas yang menciptakan nilai tambah ekonomi, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global,” tegas Menteri Rosan Roeslani.


BACA JUGA :


Investor Global Mulai Mengubah Strategi

Perubahan pasar membuat investor global tidak lagi sekadar mengejar kenaikan harga tanah. Fokus investasi bergeser pada proyek yang memiliki model bisnis jelas, tingkat okupansi tinggi, dan potensi pendapatan jangka panjang.

Senior Associate Director Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto dalam laporan Annual Property Market Report Bali 2025, menjelaskan bahwa: “Canggu dan Uluwatu menjadi klaster utama pengembangan apartemen karena didukung daya tarik gaya hidup, aktivitas pariwisata yang kuat, dan pertumbuhan komersial yang berkelanjutan.”

Laporan pasar menunjukkan kawasan seperti Canggu, Uluwatu, Sanur, Pererenan, dan Ubud tetap menjadi tujuan utama investasi karena memiliki permintaan wisata yang kuat, keterbatasan pasokan lahan, serta ekosistem bisnis yang semakin berkembang.

Sementara itu, kawasan Tabanan dan Bali Utara mulai menarik perhatian sebagai destinasi investasi jangka panjang seiring rencana pembangunan infrastruktur dan meningkatnya minat terhadap destinasi baru.

Strategi investor pun berubah dari pendekatan buy and sell menuju buy, operate, and hold, yaitu membeli aset untuk dikelola sebagai sumber pendapatan berulang melalui penyewaan, layanan hospitality, maupun konsep mixed-use.

*Laporan Bali Residential Development – Supply & Pricing Report | Anteya, 31 Maret 2026 .

Kawasan Harga Properti Karakter Pasar Implikasi Investor
Canggu/Batu Bolong ±USD 299.000 Pasar matang, permintaan tinggi Fokus pada pendapatan sewa
Uluwatu ±USD 300.000 Pariwisata premium berkembang Operasional vila dan resort
Ubud ±USD 295.000 Wellness & cultural tourism Tingkat hunian relatif stabil
Sanur ±USD 305.000 Medical & family tourism Prospek jangka panjang
Pererenan/Canggu ±USD 255.000 Spillover dari Canggu Masih ada ruang apresiasi
Kedungu (Tabanan) ±USD 260.000 Kawasan berkembang Harga lebih kompetitif
Nuanu–Tabanan ±USD 288.000 Emerging destination Investasi jangka panjang

Fundamental Bali Masih Menjadi Daya Tarik Utama

Sejumlah lembaga riset internasional menilai fundamental Bali tetap kuat meskipun pasar memasuki fase yang lebih selektif.

Head of Research JLL Indonesia, James Taylor menyatakan,“Pasar perkantoran CBD Jakarta mempertahankan momentum pemulihannya di awal tahun 2026, dengan tingkat okupansi stabil di 72 persen. Angka permintaan pada kuartal pertama lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, mencerminkan kepercayaan yang berkelanjutan di pasar sewa.”

Meskipun pernyataan tersebut merujuk pada pasar Jakarta, peningkatan kepercayaan investor terhadap sektor properti nasional ikut memperkuat sentimen positif terhadap destinasi investasi utama, termasuk Bali yang didorong oleh sektor pariwisata dan hospitality. 

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa koreksi pasar bukanlah sinyal pelemahan permanen, melainkan fase penyesuaian menuju pertumbuhan yang lebih sehat. Bagi investor, kondisi ini membuka peluang untuk memperoleh aset berkualitas dengan valuasi yang lebih rasional sebelum memasuki siklus pertumbuhan berikutnya.

(Redaksi)

Well, Silahkan tulis pendapatnya di kolom komentar ya.

Punya pertanyaan soal Bantuan Hukum & Perizinan, Pencarian & Pengembangan Properti, Layanan Relokasi & Eksplorasi, Dukungan Media & Branding, Distribusi Produk ? INBISNIS bisa bantu jawabin.
Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini.

Yuk, gabung grup WhatsApp Berita INBISNIS.ID atau ikuti Channel Berita INBISNIS.ID! Dapatkan info terkini tentang Investasi, Bisnis dan Dunia Usaha langsung ke ponselmu.

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *