oleh

Canggu Masih Raja Properti Bali, Harga Tanah Tembus Rp2,5 Miliar per Are

INBISNISNEWS.COM, BADUNG – Lonjakan wisatawan internasional, pertumbuhan digital nomad, ekspansi bisnis dan gaya hidup menetapkan Canggu sebagai kawasan investasi properti paling kompetitif di Bali sepanjang 2026.

Menurut laporan Magnum Estate – Bali Property Market Report 2026 yang ditulis Donny Yosua pada Rabu (3/6/2026),”Pasar Bali kini telah memasuki fase yang lebih stabil dan didorong oleh data, di mana aset-aset berkualitas di lokasi-lokasi strategis terus menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan investasi spekulatif.”

Laporan Magnum Estate juga menunjukkan kawasan Canggu-Berawa menyumbang sekitar 33,5 persen aktivitas transaksi properti Bali, menjadikannya kawasan paling aktif dibanding destinasi wisata utama lainnya.

CEO INBISNIS Group, Rudi Sembiring Meliala mengungkapkan, ekosistem restoran internasional, beach club, coworking space, pusat kebugaran, sekolah internasional, hingga layanan kesehatan modern memperkuat daya tarik investasi jangka panjang di kawasan tersebut.

“Canggu tetap menjadi pusat pertumbuhan properti Bali sepanjang 2026, ditopang tingginya kunjungan wisatawan, ekspansi bisnis, gaya hidup, serta meningkatnya permintaan villa investasi,” ungkapnya, Kamis (30/7).

Harga Tanah Canggu 2026 Masih Mengungguli Sebagian Besar Kawasan Bali

Data pasar yang dilansir Magnum Estate Property Prices 2026 pada Senin (13/7) mengatakan hingga Juli 2026 memperlihatkan harga tanah pusat Canggu berkisar sekitar Rp1,2 miliar hingga Rp2,5 miliar per are, setara sekitar Rp12–25 juta per meter persegi tergantung lokasi, akses, legalitas, dan kedekatan pantai.

Sedangkan di kawasan berbeda, harga tanah di Pererenan umumnya berada pada kisaran Rp900 juta–Rp1,8 miliar per are, Seseh sekitar Rp700 juta–Rp1,4 miliar per are, Umalas berkisar Rp800 juta–Rp1,7 miliar per are, sedangkan Uluwatu berada pada kisaran Rp500 juta–Rp1,5 miliar per are. Di kawasan Sanur, harga premium mencapai Rp900 juta–Rp2 miliar per are, sementara Ubud umumnya berada pada kisaran Rp400 juta–Rp1 miliar per are, tergantung lokasi dan status lahan.

Di kawasan paling premium seperti Batu Bolong dan Berawa, sejumlah transaksi bahkan telah melampaui Rp2,5 miliar per are, menjadikannya salah satu kawasan dengan harga tanah tertinggi di Bali. Kenaikan tersebut dipicu terbatasnya pasokan lahan, tingginya permintaan villa mewah, serta masuknya investor institusi dan pembeli asing.

Selain kenaikan harga tanah, Canggu juga menawarkan potensi Return on Investment (ROI) yang tetap kompetitif. Laporan Bali Property Market Report 2026 menunjukkan villa yang dikelola secara profesional di kawasan Canggu–Berawa masih mampu membukukan gross rental yield sekitar 12–18 persen per tahun, tertinggi di antara kawasan premium Bali. 

Donny Yosua, Real Estate Investment Analyst Magnum Estate dalam Bali Property Market Report 2026 menjelaskan,”Pasar Bali telah memasuki fase yang lebih stabil dan didorong oleh data, di mana aset berkualitas di lokasi-lokasi utama terus mengungguli investasi spekulatif.”

Dalam lima tahun terakhir, harga tanah Canggu diperkirakan meningkat sekitar 70–120 persen, terutama di Berawa, Batu Bolong, dan Echo Beach akibat terbatasnya pasokan lahan.

Laporan pasar menunjukkan apresiasi harga di mikro-pasar unggulan kini bergerak sekitar 7–15 persen per tahun, sementara nilai tanah telah naik 15–30 persen hanya dalam dua tahun terakhir.


BACA JUGA :


Digital Nomad dan Pariwisata Jadi Penggerak

Bali menerima sekitar 6,95 juta wisatawan mancanegara sepanjang 2025, meningkat hampir 9,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya sehingga memperkuat permintaan properti investasi.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (15/7) mengatakan,“Sektor pariwisata diharapkan semakin memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.”

Fenomena digital nomad memperkuat pasar sewa jangka menengah. Canggu menjadi pilihan utama pekerja global karena menawarkan komunitas internasional, fasilitas lengkap, serta konektivitas digital memadai.

Para analis bidang properti menyebut lebih dari 4.700 digital nomad tinggal di kawasan Canggu sehingga mendorong permintaan sewa jangka menengah dan panjang.

Magnum Estate mencatat villa dengan ruang kerja, internet cepat, serta pengelolaan profesional mampu menghasilkan okupansi 70–85 persen dan gross yield 12–18 persen, tertinggi di Bali.

Mana Kawasan yang Masih Undervalued dan yang Mulai Overvalued?

Mana kawasan yang masih undervalued menjadi pertanyaan utama investor karena harga lahan relatif kompetitif, sementara potensi kenaikan nilai properti dalam beberapa tahun masih sangat menjanjikan.

Menurut Colliers Indonesia – Annual Property Market Report 2025 Bali Apartment yang rilis pada Kamis (22/1/2026), Canggu dan Uluwatu menonjol sebagai klaster pengembangan utama, didukung oleh daya tarik gaya hidup yang dinamis, aktivitas pariwisata yang kuat, dan pertumbuhan komersial yang berkelanjutan.

Melihat pusat Canggu semakin mahal, investor mulai mengalihkan perhatian ke Babakan, Tumbak Bayuh, Seseh, Cemagi, dan sebagian Pererenan yang masih menawarkan harga lebih kompetitif.

Kawasan tersebut dinilai memiliki peluang capital gain lebih tinggi karena pembangunan infrastruktur, pertumbuhan restoran, villa, serta ekspansi kawasan komersial bergerak semakin cepat menuju wilayah barat.

Sebaliknya kawasan seperti Berawa, Batu Bolong, dan sebagian Echo Beach dinilai mulai menunjukkan indikasi overvalued memasuki kategori pasar premium dengan valuasi tinggi sehingga investor harus semakin selektif memilih aset berkualitas.

Sejumlah analis menilai kawasan premium belum menunjukkan gelembung harga, tetapi potensi kenaikan diperkirakan lebih moderat dibanding kawasan berkembang yang masih memiliki pasokan lahan lebih luas.

Prospek Investasi 2030-2035, Apakah Canggu Masih Layak Dibeli Hari Ini?

Real Estate Investment Analyst-Magnum Estate, Donny Yosua dalam laporannya mengatakan, Skenario dasar menunjukkan pertumbuhan harga yang stabil sekitar 5–10% per tahun di kawasan yang sudah mapan, dengan potensi kenaikan yang lebih tinggi di kawasan-kawasan yang sedang berkembang.

Apabila pertumbuhan pariwisata, digital nomad, serta pembangunan infrastruktur berlanjut, harga properti Canggu diperkirakan tetap meningkat secara sehat dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang.

Model pertumbuhan diperkirakan bergeser dari spekulasi menuju investasi berbasis pendapatan sewa, kualitas aset, efisiensi operasional, serta kepastian legalitas kepemilikan properti.

Meski prospeknya kuat, investor tetap perlu mencermati legalitas lahan, zonasi, status kepemilikan, kepadatan pembangunan, kemacetan, hingga kualitas pengelolaan aset sebelum berinvestasi.

CEO INBISNIS Group, Rudi Sembiring Meliala mengingatkan,“Meski Canggu tetap menjadi kawasan unggulan Bali. Namun, strategi terbaik kini bukan membeli aset termahal, melainkan memilih lokasi berkembang dengan fundamental kuat, pengelolaan profesional, dan potensi apresiasi berkelanjutan.”

(Redaksi)

Well, Silahkan tulis pendapatnya di kolom komentar ya.

Punya pertanyaan soal Bantuan Hukum & Perizinan, Pencarian & Pengembangan Properti, Layanan Relokasi & Eksplorasi, Dukungan Media & Branding, Distribusi Produk ? INBISNIS bisa bantu jawabin.
Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini.

Yuk, gabung grup WhatsApp Berita INBISNIS.ID atau ikuti Channel Berita INBISNIS.ID! Dapatkan info terkini tentang Investasi, Bisnis dan Dunia Usaha langsung ke ponselmu.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *