oleh

Harga Tanah SBD 2026 Mulai Menarik Investor, Peluang Besar atau Sekadar Euforia?

INBISNISNEWS.COM, SUMBA – Sumba mulai menunjukkan potensi sebagai kawasan pertumbuhan baru investasi properti dan pariwisata, meski skalanya masih berada di bawah Bali serta Labuan Bajo.

Minat investor domestik mulai bergeser ke wilayah ini seiring meroketnya harga lahan di destinasi papan atas Bali yang kian kompetitif dan jenuh.

Sumba kini berada pada tahap awal siklus pertumbuhan properti yang menawarkan titik masuk harga sangat menarik bagi para pemodal berorientasi jangka panjang.

Sumba Mulai Menarik Perhatian Investor

Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya menandatangani MoU dengan PT Costa Hotels Sumba pada April 2026, memperlihatkan adanya minat pengembangan pariwisata dan investasi baru.

Bupati Sumba Barat Daya Ratu Ngadu Bonu Wulla menegaskan, investasi yang masuk harus mematuhi regulasi serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat setempat.

MoU tersebut menjadi bukti konkret minat pengembangan. Pada tahap awal, PT Costa Hotels Sumba berkomitmen menginvestasikan dana sebesar Rp22 miliar untuk pembangunan hotel berkapasitas 36 kamar.

Direktur Utama perusahaan, Humphrey Quenet, menyampaikan bahwa selain pembangunan fisik, pihaknya juga fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia lokal.

Berapa Harga Lahan Sumba Barat Daya?

Harga lahan Sumba belum memiliki indeks transaksi publik memadai; sumber pasar 2026 menyebut harga indikatif, namun seluruh angka berasal dari listing yang terverifikasi.

Indikator pertama yakni harga lahan di kawasan pesisir Sumba Barat Daya tercatat masih berkisar Rp300 ribu hingga Rp1,5 juta per meter persegi.

Angka tersebut jauh lebih terjangkau dibandingkan lahan pesisir Canggu Bali yang telah menembus Rp15 juta hingga Rp30 juta per meter persegi (Sumber: Survey Land Properti 2025/2026).

Karena itu, investor sebaiknya membandingkan harga berdasarkan lokasi, akses, sertifikat, zonasi, luas lahan, kontur, utilitas, kedekatan pantai, serta kemampuan pengembangan aset secara objektif.

Kepala Kantor Wilayah ATR/BPN Provinsi Nusa Tenggara Timur R. Iskandar Syah menegaskan pada Juli 2026 bahwa investor tidak boleh menjadikan harga penawaran sebagai satu-satunya acuan dalam membeli tanah.

Menurutnya, nilai investasi harus didasarkan pada kepastian status hak atas tanah, kesesuaian tata ruang, serta hasil verifikasi lapangan agar transaksi memiliki kepastian hukum dan meminimalkan risiko sengketa.


BACA JUGA :


Seberapa Besar Pertumbuhan Wisata Sumba?

Berdasarkan publikasi Kabupaten Sumba Barat Daya Dalam Angka 2026, pemerintah daerah terus memperkuat infrastruktur pendukung sektor pariwisata, sementara investasi akomodasi swasta mulai berkembang seiring meningkatnya minat terhadap destinasi premium.

Meski data kunjungan wisatawan kabupaten belum dipublikasikan secara berkala, bertambahnya proyek resort, vila, dan pengembangan desa wisata menjadi indikator bahwa ekosistem hospitality Sumba memasuki fase pertumbuhan awal yang menarik untuk dipantau investor. 

Dinas Pariwisata Sumba Barat Daya menyebut wilayahnya memiliki potensi wisata alam, budaya, petualangan, pantai, sabana, kampung adat, serta ekowisata berkelanjutan.

Pemkab Sumba Barat Daya telah mengembangkan empat desa wisata melalui pendampingan PANA-LPDP, memperlihatkan penguatan kapasitas destinasi berbasis masyarakat lokal dan ekonomi lokal.

Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Ahmad Riza Patria saat membuka Ekshibisi PANA–LPDP di Tambolaka pada 3 Maret 2026 mengatakan bahwa desa wisata harus dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat UMKM, dan menarik investasi tanpa menghilangkan karakter budaya lokal.

Apakah Pasokan Hotel dan Resort Mengikuti Permintaan?

Perkembangan sektor hospitality di Sumba menunjukkan tren perhatian investor terhadap destinasi wisata premium, meskipun data pemerintah daerah belum menunjukkan basis hotel dan resort Sumba secara seragam.

Optimisme tersebut mulai tercermin dari hadirnya berbagai proyek akomodasi baru. Salah satunya Kabisu Sumba yang mengembangkan sepuluh villa beachfront di atas lahan seluas tiga hektar dengan target pembukaan bertahap pada kuartal ketiga 2027

CEO dan Co-Founder NIHI Sumba, James McBride, mengatakan saat bertemu Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena pada 25 Maret 2026 bahwa daya saing Sumba sebagai destinasi kelas dunia tidak hanya ditentukan oleh keindahan alam, tetapi juga oleh peningkatan konektivitas, infrastruktur, dan kualitas layanan.

Seiring membaiknya akses transportasi dan meningkatnya promosi destinasi, peluang peningkatan okupansi, rata-rata lama tinggal wisatawan, dan nilai ekonomi kawasan diperkirakan akan semakin terbuka.

Meski demikian, investor disarankan mengevaluasi proyeksi okupansi, tarif kamar, biaya operasional, karakteristik pasar, serta posisi kompetitif proyek agar dapat memanfaatkan momentum pertumbuhan hospitality Sumba secara optimal dan berkelanjutan.

Akses Sumba Sumba Barat Daya Mulai Menguat

Mulai 23 Juli 2026, Wings Air membuka penerbangan langsung Labuan Bajo–Tambolaka tiga kali seminggu, memperkuat konektivitas Sumba Barat Daya dengan ekosistem pariwisata Flores.

Presiden Direktur Wings Air Daniel Putut Kuncoro Adi mengatakan pada 23 Juli 2026 bahwa pembukaan rute langsung Labuan Bajo–Tambolaka merupakan bagian dari strategi memperkuat konektivitas antar destinasi prioritas di Indonesia Timur. 

Menurutnya, konektivitas udara yang lebih baik diharapkan dapat mempercepat mobilitas wisatawan sekaligus mendukung pertumbuhan investasi di sektor pariwisata dan ekonomi daerah. 

Namun, konektivitas belum otomatis menghapus risiko akses; investor tetap perlu menilai frekuensi penerbangan, kapasitas bandara, jalan, listrik, air, internet, serta logistik konstruksi di lapangan.

Sumba Barat Daya Tidak Bebas Risiko

Wakil Ketua DPRD Sumba Barat Daya, Yusuf Bora mengingatkan pengembangan wisata tidak cukup mengandalkan alam; fasilitas, kenyamanan, dan kesesuaian karakter lokal harus diperbaiki.

Risiko investasi mencakup legalitas tanah, tata ruang, akses, utilitas, daya dukung lingkungan, likuiditas, permintaan wisata, serta tekanan biaya pembangunan dan operasional jangka panjang.

Perkembangan pasar investasi Sumba pada 2030–2035 diperkirakan bergerak dalam tiga skenario, bergantung pada percepatan infrastruktur, arus investasi, kepastian regulasi, serta permintaan wisata premium.

Base Scenario menunjukkan pertumbuhan bertahap; Upside membutuhkan konektivitas, hospitality, utilitas, dan permintaan meningkat, sedangkan Downside muncul jika proyek melampaui permintaan dan tekanan biaya meningkat.

(Redaksi)

Well, Silahkan tulis pendapatnya di kolom komentar ya.

Punya pertanyaan soal Bantuan Hukum & Perizinan, Pencarian & Pengembangan Properti, Layanan Relokasi & Eksplorasi, Dukungan Media & Branding, Distribusi Produk ? INBISNIS bisa bantu jawabin.
Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini.

Yuk, gabung grup WhatsApp Berita INBISNIS.ID atau ikuti Channel Berita INBISNIS.ID! Dapatkan info terkini tentang Investasi, Bisnis dan Dunia Usaha langsung ke ponselmu.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *