oleh

Eco Resort Menjadi Tren Baru Investasi Properti Indonesia Timur

-Property-27 Dilihat

INBISNISNEWS.COM, BALI – Tren pariwisata berkelanjutan mendorong perubahan strategi investor global, Eco resort kini dipandang sebagai instrumen investasi yang menggabungkan profitabilitas, konservasi, dan dampak sosial berkelanjutan.

Indonesia Timur, mulai Bali, Labuan Bajo, Sumba, Lombok, Flores, hingga Raja Ampat, semakin menarik perhatian investor seiring meningkatnya permintaan terhadap destinasi wisata premium berbasis lingkungan.

World Travel & Tourism Council memperkirakan kontribusi sektor pariwisata Indonesia mencapai Rp1.269,8 triliun pada 2025 dan terus bertumbuh seiring meningkatnya mobilitas wisatawan global.

Badan Pusat Statistik mencatat kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 1,38 juta pada Mei 2026, tertinggi sejak pandemi dan memperkuat permintaan akomodasi premium nasional.

Indonesia Timur Menjadi Episentrum Investasi Properti Berbasis Lingkungan

Keunggulan Indonesia Timur terletak pada bentang alam, ketersediaan lahan, budaya lokal, serta dukungan pemerintah terhadap pengembangan destinasi pariwisata prioritas dan berkelanjutan.

Realisasi investasi Indonesia Semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun. Kawasan timur dinilai memiliki potensi besar dalam menarik investasi hospitality dan properti berbasis lingkungan.

Bandara I Gusti Ngurah Rai tetap menjadi pintu masuk utama wisatawan mancanegara, sementara Labuan Bajo dan Lombok menunjukkan tren peningkatan kunjungan seiring pengembangan destinasi premium nasional.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, “Penghargaan internasional ini menegaskan komitmen Indonesia terhadap pariwisata berkelanjutan, kualitas layanan, dan pelestarian budaya,” pernyataan di sampaikan pada Selasa, 20 Januari 2026, dilansir dari antaranews.com.

Pernyataan tersebut memperkuat keyakinan investor bahwa eco resort merupakan bagian dari transformasi industri pariwisata Indonesia menuju ekonomi hijau yang lebih inklusif dan kompetitif.

Peluang, Risiko, dan Strategi Investor Memasuki Segmen Eco Resort

UN Tourism dan Global Sustainable Tourism Council mencatat preferensi wisatawan global terus bergeser menuju destinasi yang mengedepankan konservasi, emisi rendah, dan keterlibatan masyarakat lokal.

Pergeseran ini menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan pasar eco tourism dalam satu dekade terakhir.

Dalam Property Outlook 2026, Knight Frank Indonesia mencatat investor semakin memperhatikan aset yang memiliki prinsip keberlanjutan dan ketahanan jangka Panjang.

Tren ini sejalan dengan meningkatnya perhatian terhadap aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam pengambilan keputusan investasi global.

Pelaku industri hospitality memperkirakan eco resort premium di Bali dan Nusa Tenggara dapat menghasilkan gross yield sekitar 8–15 persen per tahun, bergantung pada lokasi, tingkat okupansi, dan model pengelolaan.

Angka tersebut merupakan estimasi pasar yang didasarkan pada tren kinerja properti hospitality premium di Indonesia.


BACA JUGA :


Selain pendapatan operasional, investor juga berpotensi memperoleh capital gain seiring peningkatan infrastruktur, aksesibilitas, dan terbatasnya pasokan properti premium di kawasan Indonesia Timur.

Namun, investor perlu memperhatikan risiko perizinan, tata ruang, carrying capacity destinasi, serta potensi overdevelopment yang dapat mengurangi daya tarik kawasan dalam jangka panjang.

Risiko ini menjadi perhatian utama dalam pengembangan properti berbasis lingkungan.

Reuters melaporkan sejumlah destinasi Asia mulai menghadapi tekanan berupa peningkatan sampah, kemacetan, dan beban infrastruktur pascapandemi. Karena itu, pertumbuhan investasi perlu diimbangi dengan pelestarian lingkungan.

Pada akhirnya, strategi investasi eco resort tidak hanya berfokus pada imbal hasil, tetapi juga pada kemampuan menjaga keseimbangan antara profitabilitas, keberlanjutan, dan dampak ekonomi bagi masyarakat lokal.

Dukungan Regulasi dan Infrastruktur Memperkuat Prospek Investasi

Pemerintah terus mempercepat pembangunan bandara, pelabuhan, jalan nasional, dan utilitas dasar di Labuan Bajo, Mandalika, serta sejumlah destinasi prioritas lainnya untuk meningkatkan konektivitas.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani mengatakan, “Di tengah tantangan geopolitik maupun geokonomi dunia, komitmen investor untuk berinvestasi langsung di Indonesia masih in line dengan target yang dicanangkan untuk 2026.” Pernyataan itu disampaikan pada 16 Juli 2026, dilansir dari cnnindonesia.com.

Infrastruktur baru tidak hanya meningkatkan kunjungan wisatawan, tetapi juga menciptakan efek berganda berupa lapangan kerja, pertumbuhan UMKM, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.

Proyeksi Pertumbuhan Eco Resort Hingga Tahun 2035

WTTC memproyeksikan kontribusi sektor pariwisata Indonesia mencapai Rp1.897 triliun pada 2035, didukung pertumbuhan wisata premium dan penciptaan jutaan lapangan kerja baru secara nasional.

Dalam perspektif portofolio, eco resort layak dipertimbangkan sebagai aset jangka panjang karena menawarkan kombinasi pendapatan berulang, capital gain, serta nilai keberlanjutan yang terus meningkat.

Dibandingkan Thailand, Vietnam, dan Filipina, Indonesia Timur memiliki keunggulan berupa biodiversitas, budaya autentik, serta ruang ekspansi properti hijau yang masih relatif luas dan kompetitif.

Keunggulan tersebut diperkuat oleh laporan World Economic Forum (Travel & Tourism Development Index 2024) yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan sumber daya alam dan budaya paling kompetitif di dunia.

President & CEO World Travel & Tourism Council (WTTC), Julia Simpson, mengatakan saat peluncuran Economic Impact Research 2025 pada 20 Mei 2025:

“Indonesia’s Travel & Tourism sector is entering a period of strong, sustainable growth, supported by rising international demand, continued investment, and the country’s extraordinary natural and cultural assets.”

Pandangan serupa disampaikan UN Tourism Secretary-General Zurab Pololikashvili dalam berbagai forum pengembangan pariwisata berkelanjutan pada 2024, yang menegaskan:

“Tourism can be a driver of sustainable development when it protects natural heritage, empowers local communities, and attracts responsible investment.”

Konsep tersebut sejalan dengan arah pembangunan Labuan Bajo, Flores, dan kawasan Indonesia Timur yang kini lebih menekankan quality tourism dibanding mass tourism, sehingga memberikan nilai tambah lebih tinggi bagi investor sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

Ditambah dengan dukungan infrastruktur, pertumbuhan wisata premium, dan meningkatnya perhatian terhadap ESG, Indonesia Timur berpeluang menjadi pusat eco tourism Asia Tenggara pada 2030 hingga 2035.

(Redaksi)

Well, Silahkan tulis pendapatnya di kolom komentar ya.

Punya pertanyaan soal Bantuan Hukum & Perizinan, Pencarian & Pengembangan Properti, Layanan Relokasi & Eksplorasi, Dukungan Media & Branding, Distribusi Produk ? INBISNIS bisa bantu jawabin.
Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini.

Yuk, gabung grup WhatsApp Berita INBISNIS.ID atau ikuti Channel Berita INBISNIS.ID! Dapatkan info terkini tentang Investasi, Bisnis dan Dunia Usaha langsung ke ponselmu.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *