oleh

Destinasi Luxury Baru Labuan Bajo Mulai Diburu Investor, Parapuar Jadi Titik Pertumbuhan Baru

-Insights-25 Dilihat

INBISNISNEWS.COM, LABUAN BAJO Labuan Bajo memasuki fase baru investasi pariwisata ketika pertumbuhan wisatawan dan pengembangan produk premium mulai membuka peluang baru bagi investor hospitality.

Perubahan tersebut penting karena peluang investasi kini tidak hanya berada pada hotel, tetapi juga wellness, glamping, olahraga, kuliner, agrowisata, dan pengalaman berbasis alam.

Bagi investor, pertumbuhan permintaan harus dibaca bersama perubahan pasokan, karakter wisatawan, lama tinggal, biaya operasional, serta kemampuan aset menghasilkan pendapatan berkelanjutan.

Market Intelligence: Pasar Mulai Bergeser ke Produk Bernilai Tinggi

Pengembangan Parapuar menjadi indikator perubahan karena pemerintah mulai menghadirkan destinasi darat yang menggabungkan alam, budaya, ekonomi kreatif, olahraga, kesehatan, dan pengalaman wisata.

Arah tersebut menunjukkan Parapuar diposisikan untuk memperluas daya tarik Labuan Bajo sekaligus menciptakan produk wisata baru di luar kawasan bahari. 

“Pengembangan destinasi harus berjalan seiring dengan penguatan infrastruktur, diversifikasi produk wisata, serta pemenuhan rantai pasok pariwisata yang inklusif. Kawasan Parapuar kami harapkan menjadi magnet baru pariwisata Labuan Bajo,” ujar Hariyanto, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata, dikutip dari Kementerian Pariwisata, 30 Januari 2026.

Pada Januari 2026, BPOLBF menandatangani kerja sama dengan PT Terra SparX dan Koperasi Pesantren Al-Ittifaq untuk mengembangkan produk wisata baru di kawasan Parapuar.

Terra SparX diarahkan mengembangkan High Life Glamping, Ocean Club and Wellness, serta Racquet Club, sedangkan Al-Ittifaq mengembangkan agrowisata berbasis rantai pasok lokal.

Bagi investor, kombinasi tersebut membuka peluang diversifikasi pendapatan melalui akomodasi, wellness, olahraga, makanan, aktivitas alam, serta produk pengalaman yang tidak bergantung pada kamar.

Data Wisatawan Memperkuat Fondasi Permintaan

Taman Nasional Komodo mencatat 200.985 kunjungan wisatawan sepanjang Januari-Juni 2026, meningkat dibandingkan 171.391 kunjungan pada periode sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan kunjungan tersebut memberikan dasar permintaan bagi hospitality, transportasi wisata, restoran, aktivitas rekreasi, serta bisnis pendukung yang melayani wisatawan.

Namun, angka kunjungan tidak otomatis menjadi pendapatan investor karena distribusi wisatawan sepanjang tahun tetap perlu diperhitungkan dalam proyeksi arus kas.

Parapuar Menawarkan Segmen Investasi Berbeda

Pengembangan Parapuar juga diperkuat melalui kegiatan wisata darat yang diarahkan menciptakan ruang publik dengan aktivitas seni, budaya, ekonomi kreatif, dan pengalaman berbasis alam.

Pergeseran tersebut membuat pengalaman wisata semakin penting dalam menciptakan nilai ekonomi destinasi. 

“Pariwisata saat ini tidak lagi hanya menjual keindahan alam, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang bermakna melalui cerita, budaya, dan kehidupan masyarakatnya,” ujar Andhy MT Marpaung, Plt Direktur Utama BPOLBF, dikutip dari BPOLBF, 3 Juni 2026.

Pada Juni 2026, kolaborasi PENTAS dan Weekend at Parapuar menarik 1.044 pengunjung, menunjukkan aktivitas destinasi darat mulai membangun permintaan di luar produk wisata bahari.


BACA JUGA :


Bagi investor, perkembangan tersebut memberi sinyal bahwa aset pendukung destinasi dapat memperoleh peluang ketika aktivitas wisata darat berkembang dan memperpanjang waktu wisatawan berada di kawasan.

Wellness dan Sport Tourism Membuka Ceruk Baru

Pengembangan wellness dan sport tourism menjadi peluang berbeda karena produk tersebut dapat menyasar wisatawan yang mencari kesehatan, kebugaran, rekreasi, sekaligus pengalaman alam.

Investor dapat mempertimbangkan resort wellness, glamping premium, pusat kebugaran, restoran sehat, fasilitas olahraga, maupun paket pengalaman yang menggabungkan beberapa sumber pendapatan.

Keunggulan model tersebut terletak pada peluang menciptakan pendapatan tambahan, tetapi keberhasilannya tetap bergantung pada positioning, harga, kualitas pengelolaan, serta kemampuan menarik pasar yang tepat.

Data Menjadi Kunci Menguji Kelayakan

BPOLBF bersama BPS Manggarai Barat pada Juni 2026 memperkuat penggunaan data pariwisata melalui Tourism Outlook 2025 dan Triwulan I 2026 untuk mendukung strategi industri.

Kebutuhan data semakin penting karena pelaku usaha membutuhkan gambaran mengenai pergerakan bisnis sebelum menentukan ekspansi maupun investasi baru. 

“Kita ingin memastikan bahwa setiap denyut nadi usaha pariwisata rekan-rekan, mulai dari perhotelan, tour & travel, hingga kuliner, dapat tercatat secara akurat dalam Sensus Ekonomi,” ujar Andhy MT Marpaung, Plt Direktur Utama BPOLBF, dikutip dari BPOLBF, 18 Juni 2026.

Data tersebut relevan bagi investor karena keputusan pengembangan aset membutuhkan informasi mengenai permintaan, karakter wisatawan, lama tinggal, pengeluaran, dan performa bisnis.

Studi kelayakan sederhana sebaiknya menggunakan skenario konservatif, moderat, dan optimistis dengan menguji tarif, okupansi, pendapatan tambahan, biaya operasional, serta periode pengembalian modal.

Risiko Investasi Semakin Kompleks

Pertumbuhan produk luxury juga meningkatkan persaingan sehingga investor perlu memastikan proyek memiliki diferensiasi jelas dibandingkan hotel, resort, glamping, atau destinasi lain yang telah beroperasi.

Risiko lain mencakup legalitas tanah, kesesuaian tata ruang, akses, air, listrik, pengelolaan limbah, daya dukung lingkungan, serta biaya pembangunan infrastruktur pendukung.

Ketergantungan terhadap wisatawan internasional juga perlu diperhitungkan karena perubahan ekonomi global, konektivitas penerbangan, maupun kondisi geopolitik dapat memengaruhi arus kunjungan.

Mitigasi dapat dilakukan melalui diversifikasi pasar, pendapatan nonkamar, kontrak operator berpengalaman, cadangan kas, serta pengembangan aset secara bertahap berdasarkan pencapaian permintaan.

Prospek: Investor Harus Memilih Model Bisnis

Prospek Labuan Bajo tetap terbuka karena pemerintah dan investor terus memperluas produk wisata, sementara Parapuar menunjukkan upaya membangun daya tarik darat yang berkelanjutan.

Bagi investor agresif, wellness, glamping, sport tourism, dan pengalaman alam dapat menjadi ceruk menarik apabila memiliki lokasi serta operator berkualitas, sedangkan investor konservatif dapat memprioritaskan aset dengan permintaan yang sudah terbukti.

Rekomendasi utamanya adalah tidak membeli aset hanya karena label luxury, tetapi menguji lokasi, permintaan, kompetisi, regulasi, biaya, pendapatan, dan skenario risiko secara bersamaan.

Dengan demikian, Parapuar dan kawasan pengembangan lainnya tidak hanya menghadirkan destinasi baru, tetapi juga membuka peluang bagi investor yang mampu mengubah pertumbuhan wisatawan menjadi lama tinggal lebih panjang, belanja lebih tinggi, serta pendapatan berulang.

(Redaksi)

Well, Silahkan tulis pendapatnya di kolom komentar ya.

Punya pertanyaan soal Bantuan Hukum & Perizinan, Pencarian & Pengembangan Properti, Layanan Relokasi & Eksplorasi, Dukungan Media & Branding, Distribusi Produk ? INBISNIS bisa bantu jawabin.
Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini.

Yuk, gabung grup WhatsApp Berita INBISNIS.ID atau ikuti Channel Berita INBISNIS.ID! Dapatkan info terkini tentang Investasi, Bisnis dan Dunia Usaha langsung ke ponselmu.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *